esin consumer


Hak dan Kewajiban Konsumen
Mei 16, 2009, 6:29 am
Filed under: Pengajaran

Hak Konsumen berdasarkan UU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen:



Proposal Usaha
Mei 16, 2009, 6:14 am
Filed under: Pengajaran

MENYUSUN USULAN (PROPOSAL ) SUATU PROYEK

  1. Format Proposal

KATA  PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

BAB I: PENDAHULUAN

  1. Latar Belekang
  2. Maksud dan Tujuan
  3. Usaha yang Akan Dikembangkan

BAB II: DESKRIPSI KELAYAKAN ASPEK

  1. Pemasaran
  2. Yuridis
  3. Organisasi dan Manajemen
  4. Teknik Produksi
  5. Aspek Finansial
  6. Aspek Sosial

BAB III: KESIMPULAN

BAB IV: PENUTUP

Lampiran-lampiran

  1. Penjelasan Format Proposal

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pada bagian ini dijelaskan kondisi-kondisi obyektif yang mendorong atau melatar belakangi pendirian atau pengembangan usaha, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dalam rangka pengembangan perusahaan secara lebih luas.

  1. Maksud dan Tujuan

Jelaskan maksud penyusunan proposal dan tujuan yang hendak dicapai melalui pendirian usaha maupun pengembangan yang akan dilakukan.

  1. Usaha Yang Akan Dikembangkan

Uraikan secara tegas jenis usaha yang akan didirikan dan atau dikembangkan.

BAB II

DESKRIPSI KELAYAKAN ASPEK

  1. Aspek Pemasaran

Pada aspek ini uraikan dengan jelas perkiraan dan taksiran dari: (a) volume permintaan, (b) volume penjualan yang mampu diraih serta daerah pemasarannya, (c) program pemasaran, dan (d) kebijakan harga dan target penjualan.

  1. Aspek Yuridis

Jelaskan landasan hukum pendirian perusahaan dan kelengkapan persyaratan formal lainnya.

  1. Aspek Organisasi dan Manajemen

Berikan informasi tentang (a) keadaan organisasi perusahaan seperti struktur organisasi dan personalianya, (b) kepemilikan, (c) pola manajemen, (d) pembagian tugas atau job deskipsi, dan (e) jumlah karyawan.

  1. Aspek Teknik Produksi

Uraikan tentang: (a) kebutuhan mesin dan peralatan lain yang diperlukan,   (b) pe-masok dan kapasitas pemasok, (c) lokasi tempat usaha dilampiri denah, (d) per-sediaan, (e) jumlah tenaga kerja, dan (f) persoalan limbah dan penanganannya.

  1. Aspek Finansial

Dalam bagian ini uraikan tentang: (a) kebutuhan modal investasi dan modal kerja, (b) arus kas masuk dan kas keluar, (c) anggaran biaya produksi dan pemasaran, dan (d) jadwal pengembalian kredit.

  1. Aspek Sosial

Dalam bagian ini uraikan segala informasi tentang dampak yang diperkirakan terjadi dari adanya proyek ini terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi perusahaan, pengembangan daerah/wilayah, serta kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

BAB III

KESIMPULAN

Dalam bab ini berikan kesimpulan hasis analisis kelayakan setiap aspek maupun secara keseluruhan.

BAB IV

PENUTUP

Dalam bab ini uraikan harapan-harapan yang diinginkan perusahaan dari penyusunan proposal usaha atau proyek yang disusun  ini.



PERAN STRATEGIS GURU WIRAUSAHA DALAM MENANAMKAN SIKAP WIWAUSAHA PADA SISWA DI SMK
Mei 16, 2009, 6:00 am
Filed under: Jurnal

ABSTRACT

Kebijakan perbandingan SMK:SMA dengan rasio 70:30 diharapkan dapat mengurangi pengangguran karena SMK mempersiapkan lulusan yang siap bekerja, bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Guru wirausaha di SMK memegang peranan yang sangat strategis dalam menanamkan sikap kewirausahaan bagi siswa, sehingga mindset siswa SMK berubah dari “lulus dan mencari pekerjaan” menjadi “ lulus SMK menciptakan lapangan pekerjaan” atau menjadi wirausaha. Sikap Kewirausahaan merupakan respon evaluatif terhadap aspek wirausaha, utamanya bisnis. Sikap wirausaha ditandai oleh:  kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidup, memiliki keyakinan kuat atas kekuatan diri, jujur dan tanggung jawab, ketahanan fisik dan mental, ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha, pemikiran kreatif dan konstruktif, berorientasi ke masa depan, dan berani mengambil resiko, serta dengan latihan nyata. Guru kewirausahaan dapat merubah sikap siswa melalui berbagai contoh positif wirausawan yang sukses saat ini dengan tetap terbuka dalam memberikan informasi kendala dan kegagalan yang juga bisa terjadi. Selanjutnya persepsi siswa tetap didorong pada sesuatu yang positif. Pembelajaran kewirausahaan di SMK yg umumnya masih didominasi pada model keseragaman, yang kurang memperhatikan latar belakang budaya siswa sebagaimana tuntutan KTSP, yakni adanya proses pembelajaran yang menghargai keberagaman dan pengalaman hidup sehari-hari anak, agar siswa menjadi semakin kreatif dan pandai berinteraksi. Peranan Guru kewirausahaan di SMK pada era otonomi daerah diharapkan mampu mengembangkan seluruh potensi yang ada, untuk mengembangkan keseluruhan aspek pembelajaran kewirausahaan, diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya disiapkan untuk bekerja, tetapi menjadi wirausahawan. Mulai sekarang guru kewirausahaan harus berpedoman pada paradigma baru, mempertimbangkan berbagai faktor, baik yang berkenaan dengan latar belakang peserta didik, psikologis anak, agar dapat merapkan strategi pembelajaran kewirausahaan secara efektif, sehingga mampu meningkatkan academic achievement dan life skills siswa, yang mengarah pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta life skills dalam menerapkan konsep pelajaran kewirausahaan untuk menjadi pelaku usaha. Pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang bisa dilakukan adalah: Contextual Teaching and Learning (CTL) Approach, Moral Dilemma Discussion (MDD) Approach, Cooperative Learning Approach (CLA), dan Problem Solving Approach

Keywords: peran strategis guru wirausaha, sikap wiwausaha

* Dosen Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang

PENDAHULUAN

  1. Kebijakan tersebut harus diikuti dengan
langkah-langkah kongkrit berupa penciptaan lapangan kerja baru di berbagai sector agar penambahan jumlah SMK tidak menimbulkan masalah baru berupa penumpukan jumlah pengangguran dikarenakan terjadi kesenjangan yang semakin besar antara jumlah tenaga kerja dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Dalam kondisi jumlah SMK seperti sekarang ini, terdapat sekitar 10 juta penganggur terbuka (open unemployed) dan 31 juta setengah pengangguran  (underemployed) di Indonesia (Sinuraya: 2008). Di kota Malang, jumlah pengangguran mencapai 40.107 orang, terdiri dari lulusan SMA/SMK, SMP dan SD sebanyak 25.440 orang serta sisanya lulusan S-1, S-2 dan Diploma sebanyak 17.240orang (http://www.

Tempointeraktif com diakses 2 Mei 2008). Data tersebut menunjukkan bahwa angkatan kerja terbanyak adalah dari tingkat pendidikan dasar dan menengah. Angka tersebut menjadi semakin fantastis jika konversi SMA ke SMK tercapai. Karena terjadi kenaikan jumlah siswa hampir 25% atau dari jumlah siswa SMK pada saat ini 18.603 orang menjadi 24.184orang (http://www.surya.co.id/web diakses 2 Mei 2008) ini berarti menyebabkan angkatan kerja bertambah jika mereka lulus nanti. Padahal untuk menyediakan lapangan kerja baru saat ini merupakan masalah yang sangat sulit. Tanpa bermaksud apriori, diduga penambahan  SMK melalui konversi SMA ke SMK akan menambah pengangguran. Salah satu Penyebab permasalahan pengangguran adalah sistem pendidikan yang hanya menghasilkan tenaga teknikal skill, yang belum banyak memberikan manfaat bagi Negara (Danuhadimejo: 1998). Atau faktor ketidakmampuan dan ketidakberanian pencari kerja untuk berwiraswasta/ wirausaha (Mardikanto:1997). Mereka yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan formal, pada umumnya hanya ingin menjadi pegawai negeri atau karyawan, jarang yang mau dan mampu menciptakan dan mengembangkan pekerjaan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain atau wirausaha (Gimin: 2000).

Kenyataan seperti ini meng-indikasikan bahwa sekolah baru sekedar mampu mempersiapkan peserta didik untuk mengisi lapangan kerja dan belum mampu mempersiapkan mereka menjadi manusia-nanusia wirausaha. Guru wirausaha di SMK memegang peranan yang sangat strategis dalam menanamkan sikap kewirausahaan bagi siswa, sehingga mindset siswa SMK beubah dari “lulus dan mencari pekerjaan” menjadi “lulus SMK menciptakan lapangan pekerjaan” atau menjadi wirausaha. Lahirnya para wirausahawan berarti semakin banyak pula terciptanya lapangan kerja (Danuhadimedjo: 1998). Terciptanya lapangan kerja akan memiliki kontribusi positif bagi pengentasan pengangguran dan kemiskinan. Begitu juga keberhasilan pembangunan ekonomi suatu Negara sebenarnya sangat ditentukan oleh keberadaan wirausahawan yang memadai dan mampu berfikir inovatif dan kreatif, sebab menurut Schumpeter dalam Thomas dan Mueller (2000) bahwa meningkatnya aktivitas kewirausahaan masyarakat dapat memberi sumbangan terhadap pembangunan. Melihat kenyataan di atas kita segera dapat melihat peran besar dan strategis bagi SMK untuk mengubah Sikap Siswa dari “ Mencari Kerja “ menjadi “ Menciptakan lapangan kerja/Wirausaha”. Peran yang bisa dilakukan oleh Guru Wirausaha sangatlah strategis, karena mata pelajaran kewirausahaan dipandang paling erat kaitannya dengan hal tersebut.

PEMBAHASAN

Peranan Sikap Kewirausahaan dalam Membentuk Wirausahawan Handal

  1. Istilah wirausaha disamakan dengan wiraswasta, berarti keberanian, keutamaan serta keperkasaan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri (Soemanto, 1999). Istilah Wirausaha berasal dari terjemahan entrepreneurship, yang berarti kemampuan dalam berfikir kreatif atau berprilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. Wiraswasta dan wirausaha dua istilah berbeda tetapi memiliki karakteristik yang sama (Alma, 2000).

Sebenarnya banyak macam ragam jenis wirausaha, tetapi yang memiliki peran mononjol bagi pembangunan ekonomi baik di Negara maju maupun berkembang adalah UKM (Usaha Kecil Menengah). Menurut Data BPS dan Kementrian Koperasi dan UKM, 99,8% lebih usaha yang ada di Indonesia adalah Usaha Kecil. Tenaga kerja yang terlibat di UKM pada tahun 2003 mencapai lebih dari 70 juta orang atau sekitar 88,4% dari total tenaga kerja yang terlibat di sektor usaha. Dengan demikian usaha kecil tetap menjadi tumpuan utama penyerapan tenaga kerja pada masa mendatang. Bahkan pada masa krisis ekonomi UKM merupakan tulang punggung penyediaan lapangan kerja, dinamisator dan stabilisator perekonomian Indonesia (Wibowo: 2007).  Senada dengan pernyataan di atas, menurut Sri Edi Swasono yang dikutip oleh Kurniawati (2005). Nilai tambah yang diterima ekonomi rakyat dan UKM akan memiliki makna strategis karena memiliki dampak secara langsung terhadap proses pengentasan rakyat miskin dan pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja baru.

Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat berbentuk positif maupun negatif terhadap suatu obyek atau peristiwa. Sikap merupakan titik awal penentu dari gerakan jalan fikiran dan kegiatan manusia dalam kehidupan. Sikap dapat pula diartikan sebagai gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau obyek. Atau dengan kata lain sikap adalah suatu yang dapat menentukan langkah dan perbuatan seseorang  (Suit & Almasdi, 2000). Dengan demikian Sikap Kewirausahaan adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan fikiran (respon evaluatif) terhadap aspek wirausaha, utamanya bisnis. Baik respon positif ataupun respon negatif.

Purnomo (2005) mengungkapkan faktor-faktor pembentuk sikap wirausaha adalah:  kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidup, memiliki keyakinan kuat atas kekuatan diri, jujur dan tanggung jawab, ketahanan fisik dan mental, ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha, pemikiran kreatif dan konstruktif, berorientasi ke masa depan, dan berani mengambil resiko

Selain delapan sikap tersebut, sikap seorang wirausahawan perlu didukung oleh aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Asfek kognisi merupakan asfek yang mengarah kepada kepercayaan (pengetahuan) seseorang akan kebenaran aktivitas wirausaha yang ditekuninya. Aspek afeksi lebih mengarah pada feeling atau perasaan seseorang terhadap kegiatan wirausaha, dan aspek konasi lebih cenderung pada aktivitas seseorang dalam melakukan wirausaha. Disamping itu menurut Purnomo (2005), sikap sangat dipengaruhi oleh motivasi, minat, etnis, gender, status sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggal, dan pendidikan formal. Tetapi semua faktor yang mempengaruhi tersebut dapat berubah dengan latihan yang nyata. Dalam pendidikan formal, terutama SMK melalui bidang studi kewirausahaan tentunya bisa dilakukan. Guru kewirausahaan dapat merubah sikap siswa melalui berbagai contoh positif wirausawan yang sukses saat ini. Tetapi harus tetap terbuka dalam memberikan informasi kendala dan kegagalan yang juga bisa terjadi. Selanjutnya persepsi siswa tetap didorong pada sesuatu yang positif.

Kondisi Pembelajaran Kewirausahaan

di SMK

Pembelajaran kewirausahaan di SMK umumnya dilakukan dengan metode ceramah, resitasi, dan membaca buku text. Menurut Galbraith (1967) untuk mempelajari suatu ilmu, seseorang harus cekatan dalam menyimak, memahami dan mengambil keputusan, agar nantinya lebih mampu bertahan hidup. Untuk itu, pendidik tidak boleh text-book oriented, sebab menurut biasanya bercorak generalisasi dan mendorong proses pembelajaran hanya sekedar menjejalkan ide-ide abstrak, sehingga siswa cenderung memorizing not understanding. (Sukarman, 1988).

Di samping model pembelajaran kewirausahaan masih text-book oriented, ternyata pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah yang divariasikan dengan metode diskusi belum menekankan pada proses berfikir siswa secara mandiri. Sebab pada umumnya diskusi dilakukan pada kelas besar yang masih didominasi guru, materi yang dibahas tidak sesuai dengan kontek dan isu-isu moral yang sedang berkembang dalam masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kewirausahaan. Ada kecenderungan siswa hanyalah sebagai pendengar penjelasan guru atau hanya sekedar melengkapi Lembar Kerja Siswa (LKS). Kondisinya menjadi semakin serius, karena pendidik kurang mengembangkan materi pembelajaran nya sesuai dengan kebutuhan siswa. Padahal dengan memperhatikan interest siswa, seorang guru akan dapat mengajar secara efektif.

Pengelolaan proses pembelajaran di sekolah masih didominasi pada model keseragaman, yang kurang memperhatikan latar belakang budaya siswa. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang didasari oleh teori “kontruktivistik”, menuntut adanya proses pembelajaran yang menghargai keberagaman dan pengalaman hidup sehari-hari anak, sehingga memungkinkan dia untuk mampu mengkontruk konsep atau pengetahuannya sendiri, agar siswa akan menjadi semakin kreatif dan pandai berinteraksi dengan teman-teman lainnya.

Beberapa kenyataan di atas menjadikan pembelajaran kewirausaha-an di SMK menjadi kurang menarik. Sebagai akibatnya, muncul kebosanan dan kejenuhan dari siswa untuk mempelajarinya, karena mereka hanya diarahkan untuk sekedar menghafalkan saja. Hal tersebut terjadi karena selama ini materi yang dipelajarinya tidak menyentuh kebutuhan mereka. Atau dengan kata lain materi yang dipelajari tidak relevan dengan pengalaman mereka sehari-hari, akhirnya materi trsebut dianggap kurang menantang.

Peranan Guru kewirausahaan di SMK pada era reformasi dan otonomi daerah menjadi semakin penting. Mereka diharapkan mampu mengembangkan seluruh potensi yang ada, untuk mengembangkan keseluruhan aspek pembelajaran. Dari pelajaran kewirausahaan diharapkan menghasilkan lulusan yang tidak hanya disiapkan untuk bekerja, tetapi menjadi wirausahawan. Untuk itu sudah selayaknya, mulai sekarang para pengajar kewirausahaan harus berpedoman pada paradigma baru, harus mempertimbangkan berbagai faktor, baik yang berkenaan dengan latar belakang peserta didik, psikologis anak, jenis belajar dan lain-lain.

Life Skills dalam Pembelajaran Kewirausahaan di SMK

Meningkatnya keberhasilan pendidikan kewirausahaan di SMK ditandai dengan meningkatnya sikap kewirausahaan siswanya. Oleh sebab itu diperlukan model pembelajaran yang lebih riil, yaitu memberikan mereka life skills. Life skills dalam pendidikan kewirausahaan adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh siswa sehingga mereka dapat hidup mandiri sebagai wirausahawan. Maka empat prinsip penting dalam menjalankan pembelajaran kewirausahaan sebagai life skills tidak boleh ditinggalkan, yaitu Learning to know (belajar untuk mengetahui kewirausahaan), learning to do (belajar untuk melakukan kegiatan wirausaha), learning to be (belajar untuk mempraktekkan kegiatan wirausaha), and learning to live together (belajar untuk bersama dengan yang lain dalam interaksi sosial dalam berwirausaha). Model pembelajaran kewirausahaan akan berhasil dengan baik bila seorang guru mampu mengorganisasikan pengalaman belajar siswa dengan menggunakan prosedur yang sistematis. Pengalaman belajar yang dimaksud merupakan pengetahuan atau informasi kewirausahaan yang biasa mereka alami atau mereka kenal sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, dalam membuat model pembelajaran harus mempertimbangkan latar belakang budaya siswa dan pengalaman kewirausahaan siswa. Belajar kewirausahaan bukan hanya sekedar mengajari bagaimana siswa dapat membuat kemudian menjual, melainkan memberikan pengalaman dan kecakapan langsung bagaimana merancang dan mengelola sebuah usaha secara utuh.

Assessment dalam Pembelajaran Kewirausahaan di SMK

Permasalahan dalam pembelajaran kewirausahaan tidak hanya karena sistem penyampaian yang digunakan oleh pendidik, tetapi juga mencakup aspek assessmennya. Selama ini pendidik kewirausahaan masih salah dalam menerapkan strategi pembelajarannya yang semata-mata hanya menekankan pada aspek kognitif saja. Padahal seharusnya proses pembelajaran kewirausahaan lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomatorik, dan lifeskills di samping aspek kognitif sebagai konsep. Sehingga sistem evaluasinya juga hanya menekankan pada aspek kognitif. Padahal pada hakikatnya mata pelajaran kewirausahaan adalah pendidikan nilai yang bersumber dan berlandaskan pancasila dan UUD 1945. dengan demikian  penekannannya lebih dititikberatkan pada aspek nilai sikap (afektif) dan pengalaman (psikomotorik) di samping secara intregatif perlu diperhatikan aspek pengetahuan. Dampak negatif dari pelaksanaan proses pembelajaran kewirausahaan tersebut berakibat pada tidak konsistennya antara nilai yang didapat para siswa dengan sikap dan perilaku mereka pada kehidupan sehari-hari. Sebagai gambaran perilaku dan sikap negatif tersebut, yaitu banyak siswa di kota-kota besar seperti Jakarta dan kota besar lainnya, walaupun nilai kewirausahaan tergolong cukup baik, namun seringkali mereka cenderung, yang tidak menandakan bahwa mereka telah memiliki sikap kewirausahaan. Mereka belum bisa menerapkan konsep mata pelajaran kewirausahaan dalam kontek riel sebagai wirausaha. Hal tersebut menandakan bahwa target pembelajaran yang selama ini kita harapkan belum bisa dikatakan berhasil.

Di samping strategi pembelajaran yang sesuai, kedudukan assessmen menjadi semakin penting karena merupakan bagian integral dari proses pembelajaran, khususnya kewirausahaan. Bahkan assessmen merupakan kunci keberhasilan dalam memperbaiki efektifitas proses pembelajaran (Daugherty, 1989). Assessmen mempunyai banyak manfaat, baik untuk kepentingan siswa, guru, orang tua, dan fihak lain yang membutuhkannya, seperti feedback pengalaman belajar.

Strategi dan Pendekatan Pembelajaran Kewirausahaan di SMK

Menurut Purnomo (2005), sebelum menentukan strategi pembelajaran kewirausahaan guru harus mempertimbangkan faktor-faktor penting diantaranya: kebutuhan dasar anak, latar belakang anak, perkembangan kognitif anak, jenis dan kecakapan belajar, media dan sumber belajar, karakteristik materi pelajaran, karakteristik kurikulum,  dan pengalaman guru. Tetapi kajian ini lebih memfokuskan pada factor pelaksanaan di lapangan, yakni guru kewirausahaan di SMK. Yaitu bagaimana upaya guru agar dapat merapkan strategi pembelajaran kewirausahaan secara efektif, sehingga mampu meningkatkan academic achievement dan life skills (kecakapan hidup) siswa. Yaitu academic achievement yang mengarah pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta life skills dalam menerapkan konsep pelajaran kewirausahaan untuk menjadi pelaku usaha (wirausaha). Menurut Purnomo (2005) ada empat pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang bisa dilakukan. Empat pendekatan pembelajaran tersebut adalah :

Contextual Teaching and Learning (CTL) Approach

CTL merupakan konsep belajar dengan mengkaitkan materi kewirausahaan yang sedang diajarkan dengan kenyataan dan pengalaman hidup sehari-hari. Sehingga siswa dapat menerapkan pengetahuan kewirausahaan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.  Ada empat hal mendasar yang dijadikan landasan kegiatan belajar menurut konsep pendekatan CTL yaitu proses belajar, transfer belajar, peserta didik sebagai pembelajar, dan pentingnya lingkungan belajar. Siswa belajar bukan sekedar menghafal materi atau sekedar diberi konsep oleh guru. Tetapi siswa mengalami sendiri secara langsung dan tidak langsung  karena diberi kesempatan untuk mengkontruksi pengetahuannnya sendiri. Sehingga pengetahuan mereka tentang kewirausahaan bukan hanya sekedar teori-teori yang dihafal, tetapi lebih merupakan pengetahuan yang bisa diterapkan.

Penerapan pembelajaran kewirausaha-an dengan pendekatan CTL memiliki tujuh komponen, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (ingquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), membuat model (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang bersifat alamiah (authentic asseement) (Nurhadi & Senduk, 2003)

Adapun langkah-langkah pen-dekatan  pembelajaran kewirausahaan melalui contextual teaching  and learning (CTL) dalam penerapannya secara garis besar  adalah:

  • Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar secara lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
  • Melaksanakan kegiatan inkuiri yang berkaitan langsung dengan topik-topik kewirausahaan, meliputi perumusan masalah (misalnya bagaimanakah cara mengembangkan kiat dalam berwirausaha itu?), mengamati atau melakukan observasi (baca literatur, mengamati dan mengumpulkan data tentang aspek atau faktor-faktor yang diperlukan dalam membuka usaha baru), menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, dan lain-lain (seperti melakukan analisis SWOT untuk membuat profil usaha), dan mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, orang tua/masyarakat.
  • Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Atau menggunakan key question (seperti: apakah aktivitas bisnis itu?, bagaimana cara membuka usaha baru?, bagaimana mengembangkan usaha baru?, bagaimana cara mendapatkan modal usaha itu? Apa saja kendala-kendala bisnis yang dihadapi para wirausahawan? Dan lain-lain.
  • Ciptakan masyarakat belajar (groupwork) dari berbagai macam siswa yang sifatnya heterogen baik dari latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, lingkungan, daerah yang berbeda dan lain-lain. Dengan kelompok belajar yang beragam tersebut mereka akan saling belajar satu dengan yang lain.
  • Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Pemilihan model tersebut harus selektif, semakin bagus model wirausaha semakin bagus hasilnya (misalnya menghadirkan Cak Man Owner Bakso Kota dari Malang untuk menjelaskan kiat-kiat sukses berusaha dan berdagang bakso). Pemilihan model juga harus disesuaikan dengan materi dan jurusan yang sedang di tempuh siswa.
  • Lakukan refleksi akhir pertemuan (flashback), yakni siswa mengendapkan apa yang telah dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pengetahuan siswa diperluas melalui kontek pembelajaran, guru berperan sebagai penghubung pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya dengan pengetahuan baru. Hal terpenting dalam tahap refleksi adalah: pertanyaan langsung tentang apa saja yang diperoleh siswa pada hari itu, catatan atau jurnal pada buku, kesan dan saran mengenai pembelajaran saat itu, diskusi, hasil karya, maupun laporan kegiatan siswa.
  • Langkah terakhir adalah melakukan assesessment (evaluasi) yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara, seperti melakukan observasi, wawancara, membuat catatan bebas, portofolio, self evaluation, dan lainnya.

Moral Dilemma Discussion (MDD) Approach

Nilai moral yang harus dikembangkan dalam pelajaran kewirausahaan di SMK, misalnya memberikan pertimbangan tentang keseimbangan, kejujuran, respek pada kebenaran, taat pada hukum, pentingnya tanggungjawab dan lainnya. Model pembelajaran MDD pada pelajaran kewirausahaan dilakukan dengan menghubungkan nilai moral tertentu dengan isu-isu, nilai-nilai dan analisis dari suatu konsekwensi.. Menurut Bambang Hari Purnomo (2005) ada empat tahapan dalam pelaksanaan MDD dalam pelajaran kewirausaahaan di SMK, yaitu :

  • Introduce The Moral dilemma.

Dilemma yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan anak dan mempunyai arti penting baginya. Pilihlah isu dari dilemma yang pendek dan berkaitan erat dengan situasi dan kondisi yang ada. Materi disajikan dalam bentuk diskusi, drama, prosa, film, kaset atau media lain yang dianggap sesuai. Misalnya : membahas tentang etika dalam bisnis/wirausaha dengan menyajikan contoh kongkrit dalam bentuk cerita/berita singkat yang disajikan oleh guru wirausaha. Cerita/berita tersebut bisa diambil dari media cetak seperti Koran, majalah dan lainnya.

  • Asking Pupils to Suggest Tentative Response

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pertama, siswa diminta menulis tentang apa yang mereka lakukan dan dilengkapi dengan suatu penjelasan dalam menentukan suatu keputusan.

  • Deciding Pupils into Groups to Discuss Their Reasoning

Tahap ini guru membentuk kelompok diskusi tentang hal-hal yang mereka tulis dalam tahap kedua. Guru berperan meninjau setiap kelompok diskusi, sehingga diketahui peran setiap siswa dalam kelompoknya dan membangun suasana agar diskusi menjadi semakin hidup.

  • Discussing the Reasoning and Formulating Conclusion

Selama phase penyimpulan dalam diskusi tersebut, guru melengkapi dengan papan tulis, atau media sejenis lainnya yang akan dipakai siswa untuk memaparkan alas an atau hasil diskusi kelompoknya. Sehingga dapat dilihat dan didengar oleh siswa lainnya. Pada tahap ini guru tidak harus mengumpulkan seluruh hasil kesimpulan siswa tetapi memilih dengan hati-hati hasil kelompok siswa yang paling akurat dan mendekati konsep materi yang akan diberikan. Kemudian guru menyempurnakan konsep materi yang dirasa kurang.

Cooperative Learning Approach (CLA)

Merupakan metode pembelajaran yang ditandai dengan adanya kerjasama antar siswa untuk saling membantu dalam kelompok-kelompok kecil (beranggotakan 3-4 siswa). Cara lain yaitu ditandai dengan kerjasama kelompok yang tinggal bersama untuk kurun waktu beberapa minggu atau bulan. Mereka biasanya diajarkan ketrampilan-ketrampilan kusus untuk saling membantu agar dapat bekerjasama dengan baik, seperti keaktifan dalam mendengarkan cermah tentang membuka usaha baru, ceramah strategi pemasaran dan lain-lain.  Beberapa model pembelajaran CLA seperti STAD, CIRC, JIGSAW, Learning Together, Group Investigation. Sebagai contoh model Student Team Achievement Division (STAD), yaitu dengan langkah-langkah :

  • Para siswa dibagi dalam empat kelompok belajar yang bersifat heterogen, baik level kemampuan, jenis kelamin, dan etnik.
  • Guru memberikan tugas yang disesuaikan dengan karakteristik materi kewirausahaan yang akan dibahas.
  • Para siswa bekerja sama dengan teamnya agar mereka benar-benar yakin telah menguasai materi pelajaran, sebab saatnya nanti mereka harus mampu bekerja sendiri.
  • Hasil kerja tiap-tiap kelompok diskor untuk dibandingkan dengan hasil skor rata-rata yang pernah dihasilkan sebelumnya, dan adanya poin penghargaan pada siswa yang telah melakukan unjuk kerja.
  • Poin-poin yang diperoleh tersebut kemudian dijadikan dasar untuk membentuk team baru dan diberi sertifikat khusus.

Problem Solving Approach

Merupakan sarana individu untuk memuaskan kebutuhannya dalam menghadapi suatu situasi yang dianggap baru dengan menggunakan pengetahuan, skills dan understanding yang telah dimiliki sebelumnya, atau dapat dikatakan sebagai suatu upaya individu untuk mengidentifikasi potensi-potensi tertentu dan alternative pemecahan suatu persoalan, baik konkrit maupun abstrak. Oleh sebab itu problem solving lebih bersifat sebagai suatu proses. Secara garis besar problem solving dapat digambarkan dengan langkah-langkah berikut :

  • Identifikasi fakta-fakta, Indentifikasi permasalahan, Memvisualisasi situasi, Menggambarkan setting, dan Menyatakan kembali tindakan (Read and Think)
  • Mengorganisasi informasi, Apakah informasi sudah cukup, Apakah informasinya terlalu banyak, Membuat diagram atau mengkontruk suatu model, Membuat chart, tabel, diagram atau gambar (Explore and plan)
  • Pengenalan bentuk, Melihat pekerjaan sebelumnya, Mengira-ira dan melakukan tes, Simulasi atau eksperimentasi, Membuat daftar pelengkap, Logical deduction, Membagi dan mengatasi (Select a Strategy).
  • Mengestimasi, Menggunakan kemampuan untuk menghitung, Menggunakan kemampuan/ketrampilan lainnya (Find an Answer)
  • Melakukan cek atas jawaban (apakah perhitungan sudah benar, apakah pertanyaan telah terjawab, apakah jawabannya sudah masuk akal, bagaimana jawaban dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya), Mendapatkan calon pengganti pemecahan, Mengembangkan generalisasi atau konsep lainnya, Mendiskusikan pemecahan, dan Menciptakan variasi yang menarik atas original problem. (Reflect and extend)

Sebagai contoh misalnya dalam materi merancang usaha busana, siswa diberikan problem tentang bagaimana merancang sebuah usaha busana (modiste, konfeklsi, atau butik) dengan disiapkan data-data konkrit tentang keadaan dan kemampuan yang tersedia. Baik tersedianya modal, lokasi usaha, kondisi masyarakat sekitar, prospek/peluang usaha dan lain-lain. Berdasarkan data-data yang tersedia, siswa diminta untuk merancang usaha busana dengan menerapkan berbagai konsep yang telah diajarkan meliputi berbagai aspek manajemen mulai dari keuangan, pemasaran, teknis dan produksi, serta SDM, sehingga menjadi sebuah rancangan usaha yang memiliki kelayakan untuk diterapkan.

.

KESIMPULAN

Bukan bermaksud untuk memberikan penilaian terhadap proses pembelajaran kewirausahaan dan metode pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru SMK pada saat ini. Setidaknya kita bisa melihat kenyataan yang terjadi, yaitu kesenjangan antara tersedianya lapangan pekerjaan baru dengan angkatan kerja yang semakin tidak seimbang. Sehingga diduga semakin banyaknya lulusan SMK di masa datang, akan menyebabkan penumpukan pengangguran dan kemiskinan. Maka guru kewirausahaan di SMK dapat memberikan peran strategis, yaitu merubah sikap lulusan siswa SMK dari sekedar mencari kerja menjadi menciptakan kerja/berwirausaha. Peran yang dapat dilakukan dengan merubah metode pembelajaran kewirausahaan di SMK. Jika peran ini bisa dijalankan dengan baik, maka tujuan kurikulum akan bisa dicapai. Tujuan kurikulum yang sejatinya bukan sekedar mencetak tenaga technical skill tetapi lebih pada life skills. Multiplier effect yang diharapkan selanjutnya dengan perubahan sikap siswa SMK tersebut akan muncul wirausahawan-wirausahawan baru yang sangat bermanfaat bagi Negara dalam mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. Karena peran wirausawan (UKM) terbukti mampu menyerap tenaga kerja yang begitu besar dan sangat membantu dimasa krisis ekonomi Indonesia. Semoga tulisan ini bermanfaat.

DAFTAR RUJUKAN

Alma, Buchori. 2000. Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta

Danuhadimedjo, D. R. 1998. Kewiraswastaan dan Pembangunan. Bandung:  Alfabeta

Galbraith, John K. 1967. The New Industrial State A signed Book. New York : Library Inc.

Gimin. 2000. “Sikap Mahasiswa Pendidikan Ekonomi IKIP UNRI terhadap Kewiraswasraan”. Jurnal IPS dan Pengajarannya. Tahun 34 (1) : 133 – 145

http://www.surya.co.id/web SMK Berorientasi pada Dunia Kerja. Powered by joomla, diakses 2 Mei 2008.

http://www.Tempointeraktif_com Pengangguran di Kota Malang Terus Meningkat. –htm. diakses 2 Mei 2008

http://www.surya.co.id/web Atasi Pengangguran, Kemiskinan dan Dibantu BOM. Powered by joomla. Diakses 19 Mei 2008

http://www.Suarapembaharuan.co.id/web: Daulat. 2008. Solusi Masalah Pengangguran di Indonesia.htm., diakses 20 Mei 2008

Kurniawati, P., Surus, A.M., Fauzi, I.N. 2005. Success Story: Rahasia Sukses Pelaku UKM. Jakarta. Pustaka Redi

Mardikanto, Totok. 1997. Link and Match Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta. Balai Pustaka

Nurhadi, Senduk, G.A. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan penerapannya dalam KBK. Malang : Penerbit Universitas Negeri Malang.

Purnomo, Bambang Hari. 2005. Membangun semangat Kewirausahaan. Yogyakarta. LaksBang PRESSindo

Saxe, W. D. 1994. Social Studies for The Elementary Teaching. Massachussett : Allyn and Bacon.

Soemanto, W. 1999. Sekuncup Ide Operasional Pendidikan Wiraswasta. Jakarta. Bumi Aksara.

Suit, Y. dan Almasdi. 2000. Aspek Sikap Mental dalam Sumber Daya Manusia. Jakarta. Ghalia Indonesia.

Sukarman. 1988. “ Sumbangan Media Massa Khususnya Surat Kabar terhadap Pelajaran Ekonomi pada SMA di Propinsi DIY”. Desertasi. Malang: Perpustakaan UM.

Thomas, S. A and Mueller, L.S. 2000. “Entrepreneurs: International; Personality: Cross Cultural Studies; Comparative Analysis Studies.” Journal of International Business Studies (JIB). Second Quarter (31) : 287 – 301

Wibowo, Singgih. 2007 . Petunjuk Mendirikan Perusahaan Kecil. Jakarta. Penebar Swadaya



Profil Kelompok Tani Vigur Asri Malang
Mei 16, 2009, 3:29 am
Filed under: vigurasri | Tag: , , ,

Latar Belakang Berdirinya dan Perkembangan Kelompok Tani Wanita Vigur Asri

  • Kelompok tani Vigur Asri merupakan kelompok tani yang bergerak dibidang tanaman organik dengan cara memanfaatkan pekarangan di lingkungan perumahan tempat tinggal anggota. Kegiatan bertanam sayuran  ini pada awalnya sebagai salah satu kegiatan hoby ibu-ibu dengan cara mengoptimalkan lahan pekarangan dan waktu luang yang dimiliki masing-masing anggota disela-sela kesibukannnya mengurus keluarga maupun pekerjaan, serta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sayuran keluarga.
  • Setelah mendapatkan penyuluhan dari petani Kurnia Kitri Ayu yang berlokasi di Sukun milik bapak Hari S. Pada bulan Mei 2007, 11 orang anggota (yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan/pendidikan maupun keterampilan di bidang pertanian dan sebagian besar ibu rumah tangga) sepakat untuk membuat kelompok dan berpatungan dalam penyediaan modal, dengan kegiatan utama menanam sayuran organik yang orientasinya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan anggota, melainkan berorientasi usaha/bisnis.
  • Karena sebagian besar anggotanya ibu-ibu, maka kelompok ini menamakan diri sebagai “Kelompok Tani Wanita Vigur Asri”. Nama “Vigur” merupakan kependekan dari Villa Gunung Buring, sedangkan kata “asri” merupakan satu keinginan agar lingkungan perumahan menjadi asri, segar dipandang mata karena hijaunya tanaman sayuran.
  • Lokasi penanaman pada awalnya disekitar Jl Bandara Juanda I dan II dengan jumlah  Sejak bulan Agustus 2007 lokasi kebun organik Vigur Asri menempati lahan pekarangan rumah di Jalan Bandara Juanda II BB 30B, serta tambahan pengembangan lahan seluas 300 m untuk budidaya tanaman berbuah dan tidak menggunakan polybag di Jl Bandara Juanda II CC 20B Perumahan Villa Gunung Buring Malang.
  • Pada awal berdiri kelompok tani  menjadi plasma dari petani inti “Kurnia Kitri Ayu yang berlokasi di Sukun selama 8 bulan sampai dengan Desember 2007. Selama itu pula kelompok tani mengikuti program dari petani inti baik jenis yang ditanam, jadwal penanaman maupun panen, serta target yang harus dicapai yang disesuaikan  dengan jadwal dan program dari petani inti.
  • Seiring dengan tekad dan keinginan untuk menjadi kelompok tani yang mandiri dan bebas, maka pada bulan Januari 2008 kelompok Vigur Asri melepaskan diri dari kemitraan sebagai plasma dengan “Kurnia Kitri Ayu Farm”, dan secara mandiri pula mulai mencari pasar dan mengembangkan budidaya sesuai dengan permintaan pasar.
  • Telah banyak plasma yang menjadi anggota dan binaan kelompok, tidak hanya terbatas pada yang berada di lingkungan perumahan sekitar lokasi Vigus Asri, kelurahan Cemorokandang atau di wilayah kec, Kedungkandang, namun sudah banyak plasma dari luar kecamatan Kedungkandang dan bahkan yang berada di wilayah kabupaten Malang.
  • Kemitraan dan kerjasama dijalin oleh kelompok Vigur Asri dengan berbagai kelompok maupun organisasi/asosiasi profesi untuk memudahkan akses kelompok dalam melakukan pengembangan, antara lain dengan: 1) PT Sang Hyang Seri (Persero), 2) Kelompok Tani Maju sebagai pengrajin media tanam (pupuk kandang, sekam, tanah, dan rak), 3) KTNA, 4) HKTI, 5) ASPARTAN (asosiasi pasar tani dan menjadi salah satu pengurus yang ada di dalamnya), 6) Universitas Merdeka Malang, dan 7) Kelompok tani organik yang ada di Malang Raya.
  • Sejalan dengan perkembangan pengetahuan serta kesadaran yang semakin tinggi dari masyarakat akan manfaat tanaman organik khususnya di wilayah Malang raya, telah banyak masyarakat baik secara individu maupun kelompok/organisasi PKK, pemuda,  atau kelurahan yang datang dan meminta diselenggarakan kegiatan budidaya tanaman organik. Dengan demikian maka kegiatan kelompok tani Vigur Asri saat ini tidak hanya budidaya sayuran, melainkan berkembang menjadi pelatih/pemateri budidaya sayuran organik diberbagai daerah di wilayah malang raya dan bahkan sampai di kabupaten lain di Jawa timur. Pelatihan dilakukan dengan peserta cara datang langsung ke lokasi kebun Vigur Asri, maupun ditempatnya masing-masing (kelompok tani Vigur Asri yang datang ke lokasi sasaran pelatihan).

Tujuan

  • Untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan bahan makanan/sayuran sehat melalui optimalisasi lahan pekarangan dan pemanfaatan waktu luang, sehingga lingkungan menjadi lebih asri.
  • Untuk mengurangi konsumsi bahan makanan yang banyak mengandung pestisida atau pupuk kimia yang disadari sangat berbahaya bagi kesehatan.
  • Untuk menambah pendapatan keluarga (sebagai penghasilan sampingan) melalui kegiatan bercocok tanam sayuran organik.
  • Menunjang program pemerintah yang mencanangkan Indonesia “Go Organik” pada tahun 2010.
  • Mengangkat perekonomian masyarakat ekonomi menengah ke bawah umumnya dan pemberdayaan wanita pada khususnya.

Kapasitas dan Jenis Produksi

  • Mengingat terbatasnya lahan pekarangan di lingkungan perumahan, maka penanaman dilakukan menggunakan wadah, yakni polybagpolybag yang disusun pada rak-rak yang terbuat dari bambu. Media yang digunakan adalah campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang, tanpa menggunakan pupuk kimia serta tidak menggunakan pestisida. Proses penanaman sampai panen dilakukan secara manual dan sederhana.
  • Kapasitas produksi kebun organik Vigur Asri adalah 3000 polybag. Penanaman dilakukan secara bertahap, yakni setiap hari dengan masing-masing maksimal 200 polybag, sehingga produksi dalam setiap hari antara 300 – 400 polybag, dengan hasil panen ± 15kg/hari.
  • Jenis sayuran yang dibudidayakan Vigur Asri baik di kebun sendiri maupun oleh plasma terdiri dari 16 jenis. Sayuran yang ditanam dalam polybag terdiri dari: kangkung, siongmax, sawi (caysim), bayam, sawi daging, kalian, dan slada kriting (sla). Sedangkan jenis tanaman yang dibudidayakan langsung di atas lahan (tanpa polybag) terdiri dari  buncis, kubis, kacang panjang, tomat, mentimun, terung, labu siam atau manisah, wortel, dan bunga rosela. Sayuran tersebut dibudidayakan sesuai dengan kebutuhan konsumen/permintaan pasar dan dipanen dalam usia muda (baby).
  • Kegiatan yang dimulai dari persiapan, penyiapan media tanam, penanaman, penyiraman, sampai dengan pengemasan dilakukan oleh semua anggota kelompok (inti maupun plasma) secara bersama-sama dan sesuai dengan standar yang disepakati. Alur kegiatan kelompok tani dalam usaha produksi sayuran organik adalah sebagai berikut:

Pemasaran

  • Pada awal berdiri sampai selama 8 bulan, pemasaran hasil panen selama ini tidak dipasarkan secara langsung kepada konsumen, melainkan melalui petani inti. Harga jual disesuaikan dengan harga yang ditentukan oleh petani inti yang sekaligus sebagai penyalur hasil panen kelompok.
  • Dengan tersedianya lahan yang jika dimaksimalkan dapat ditanami 3000 polybag, ditambah tanaman sayuran yang berbuah yang tidak ditanam pada polybag, banyaknya minat dari warga sekitar yang ingin bergabung untuk terlibat dalam kegiatan tersebut, memacu kelompok untuk melepaskan diri sebagai plasma dan mencari pasar secara mandiri.
  • Produk Vigur Asri di pasarkan dengan menggunakan label “Say O” yang merupakan kependekan dari Sayur Organik. Produk Vigur Asri telah dinyatakan sebagai produk organik oleh Dinas Pertanian Kota  maupun Provinsi.
  • Pemasaran dilakukan secara langsung dan secara konsinyasi. Penjualan langsung dilakukan bagi konsumen yang sudah menjadi pelanggan tetap, maupun yang datang langsung ke lokasi penanaman (kebun), sedangkan konsinyasi dilakukan untuk pemasaran melalui supermarket.
  • Pemasaran insidental melalui kegiatan-kegiatan yang diikuti oleh kelompok tani Vigur Asri seperti halnya melalui kegiatan pameran, expo, pasar tani, atau event promo lainnya.
  • Selain pemasaran hasil budidaya tanaman organik yang, kelompok tani Vigur Asri juga memasarkan/menjual media tanam dan aneka macam bibit, serta hasil olahan organik (bumbu dasar, bumbu pecel), serta beras organik (beras putih, merah, dan beras hitam) bekerja sama dengan kelompok tani organik mitra yang ada di wilayah Malang raya.

Rencana Pengembangan Ke Depan

  • Penanaman berbagai jenis sayuran, baik di kelompok inti maupun melalui plasma-plasma binaan.
  • Memiliki sertifikat organik dari lembaga sertifikasi
  • Memiliki Kios (istana sayuran organik) sebagai tempat menjual hasil kebun maupun olahannya.
  • Memiliki koperasi serba usaha yang berbadan hukum sebagai wadah bagi anggota kelompok tani organik khususnya, dan masyarakat pada umumnya.
  • Melakukan diversifikasi produk olahan organik.
  • Memiliki lahan sendiri yang permanen yang dapat dijadikan sebagai objek wisata maupun pusat pelatihan tanaman organik sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan khususnya bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan Lain dan Prestasi yang diraih

  • Beberapa anggota kelompok pernah mengikuti seminar dan lokakarya Nasional “Pemanfaatan Pekarangan untuk Sayuran dan Biofarmaka Organik” yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah bekerjasama dengan Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, pada bulan Juni 2007.
  • Mengikuti pameran di Gelora Ken Arok Malang pada bulan Juli 2007
  • Mengikuti kegiatan Dengar pendapat dengan anggota DPR RI (Komisi VI) pada bulan Agustus 2007.
  • Mendapatkan bantuan modal pengembangan usaha dari anggota DPR RI sejumlah Rp. 1.500.000,00 yang direalisasikan dengan penambahan media tanam sejumlah 500 polybag.
  • Mengikuti semiar ekonomi kerakyatan dan UKM Yang diselenggarakan KOPMA UM dan DEKOPINDO (5 anggota)
  • Menjadi penyelenggara pelatihan budidaya sayuran organik se kota Malang yang diikuti oleh 150 peserta perwakilan setiap kecamatan (anggota PKK, Unsur Sekolah, Karang Taruna, dan PPL) bekerja sama dengan PT Sang Hyang Seri (Persero) yang sekaligus dilakukan penandatanganan MoU antara kelompok Tani Vigur Asri dengan PT Sang Hyang Seri (Persero) pada bulan November 2007.
  • Terpilih sebagai kelompok tani berprestasi Tingkat Nasional 2007.
  • Membidani lahirnya pra koperasi Vigur Asri pada 1 Januari 2008
  • Studi banding ke Pusat Pengembangan Organik PT. Sampurna di Pandaan, Februari 2008.
  • Pameran di Sasana Krida Universitas Malang, bekerjasama dengan Universitas Merdeka malang, Maret 2008
  • Mengikuti temu tani se Malang Raya serta dialog dengan anggota DPR RI dan BUMN yang terkait pada bulan Maret 2008.
  • Mengikuti pasar lelang yang diselenggarakan DISPERINDAG provinsi Jawa Timur di Bank Jatim Surabaya April 2008.
  • Mengikuti pelatihan pengolahan pangan untuk industri di Hotel Utami Surabaya, April 2008
  • Peserta apresiasi organik di Hotel Utami Surabaya, Mei 2008
  • Menghadiri undangan Pameran Sayuran Organik yang diselenggarakan Agro Kusuma yang dihadiri oleh Pengusaha dari Singapura pada bulan Mei 2008
  • Juara I lomba kelompok tani se kota Malang dan juara III lomba cipta menu yang diselenggarakan Dinas Pertanian Kota Malang bulan Juli 2008.
  • Mengikuti pelatihan internet di TELKOM DIVRE Malang, Juli 2008
  • Perluasan lahan seluas 300 m (kebun 2) dan pembuatan greenhouse (kebun 1), Agustus 2008.
  • Mengikuti apresiasi organik di gedung DOM UMM Malang.
  • Study banding ke PUSPA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Agrobis) di Lebo Sidoarjo.
  • Menjadi pemateri pada pelatihan budidaya tanaman organik di Kabupaten Pasuruan (kec. Sengon, Purwosari, Nongko Jajar, dan Bangil) yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan, bulan Agustus – September 2008.
  • Melaksanakan pelatihan budidaya  sayuran Organik di Kecamatan Karangploso Malang, September 2008
  • Mendapat kunjungan dari Staf Ahli Gubernur (Ibu Nindyo beserta binaan), bulan Oktober 2008
  • Mendapat bantuan SOCIS dari Dinas pertanian.
  • Melaksanakan pelatihan dan pendampingan budidaya tanaman organik di kelurahan Cemorokandang (40 peserta perwakilan 11 RW)  yang diselenggarakan PNPM Mandiri Cemorokandang, 14 Desember 2008. Kegiatan pendampingan budidaya di setiap RW (11 RW) dilakukan mulai bulan Januasi 2009.
  • Memberikan pelatihan budidaya tanaman organik bagi siswa kelas 6 MI Al Huda Sawojajar Malang, 8 Januari 2009
  • Melaksanakan pelatihan budidaya tanaman organik di kelurahan Bunul Rejo Kec. Blimbing, diikuti oleh 70 peserta perwakilan 23 RW,  yang diselenggarakan BKM Bunulrejo 21 Februari 2009.
  • Melaksanakan pelatihan budidaya tanaman organik di Kecamatan Sawojajar 2 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang,  Maret 2009.
  • Melaksanakan pelatihan budidaya tanaman organik di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang,  Maret 2009.
  • Melaksanakan pelatihan budidaya tanaman organik di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, 26 Maret 2009.

STRUKTUR ORGANISASI KELOMPOK TANI WANITA VIGUR ASRI


KELOMPOK TANI WANITA

Vigur Asri

JL. BAND. JUANDA II/BB30 VILLA GUNUNG BURING

CEMOROKANDANG-KEDUNGKANDANG

KOTA MALANG TLP. 0341-7011711

IDENTITAS

NAMA                       : KELOMPOK TANI WANITA VIGUR ASRI

LOKASI                    : JL. BANDARA JUANDA II/ BB NO 30

TLP. (0341) 714417- 7011711

RT 01 RW 07 KELURAHAN CEMOROKANDANG

KECAMATAN KEDUNGKANDANG – KOTA MALANG



Hidup Sehat dengan Sayuran Organik
Mei 16, 2009, 3:13 am
Filed under: Jurnal, Pengajaran, vigurasri | Tag: , , , ,

Produk organik ialah produk yang pada proses penanaman dan pembuatannya tidak menggunakan bahan kimia sintetis atau zat-zat berbahaya lainnya  . Misalnya, beras dan sayur organik yang pada proses penanamannya tidak menggunakan pestisida atau pupuk kimiawi. Kemudian, pada proses selanjutnya juga tidak menggunakan pemutih. Sekarang kan banyak beras yang memakai pemutih, termasuk untuk gula dan tepung. Karena itu, untuk menanam secara organik, pengolahan dalam perkebunan organik juga harus melalui proses pembersihan terlebih dahulu. Terutama, jika sebelumnya perkebunan tersebut telah digunakan untuk menanam secara konvensional yang menggunakan pembasmi hama pestisida dan pupuk yang mengandung unsur kimiawi lain. Dalam dunia perdagangan, suatu produk layak disebut organik jika memiliki sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi tertentu.

Budi daya secara alami akan menghasilkan bahan pangan yang kurang menarik dari sisi penampilan, terutama sayuran mempunyai performa yang tidak menarik, banyak yang berlubang, dimakan ulat dan serangga. Namun, jika ditinjau dari kualitas cita rasa, pangan organik lebih baik. Dari sisi cita rasa, bahan pangan organik juga lebih lezat. Sayuran dan buah organik lebih renyah, lebih manis, dan tahan lama. Sedangkan yang bukan organik, kandungan airnya tinggi sehingga rasanya kurang manis dan lebih cepat busuk. Hasil penelitian di IPB Bogor menunjukkan bahwa sayuran dan buah organik, kandungan mineralnya lebih baik dibandingkan bahan pangan yang ditanam secara konvensional. Beberapa penelitian menunjukkan, sayuran seperti kubis, selada, tomat, kandungan mineral, kalsium,fosfor, dan magnesium jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran anorganik.  Seperti tomat organik, kandungan kalsiumnya 23 mg, sedangkan yang bukan hanya 5 mg.

Ada pendapat bahwa untuk mengenali produk organik dengan melihat penampakan daun, buah atau batang tanaman. Bila terdapat lubang atau berulat, menandakan bahwa tanaman tersebut menggunakan hanya sedikit atau tanpa pestisida. Karena biasanya sayuran yang daunnya betul-betul mulus tanpa cela menunjukkan si petani menggunakan pestisida berlebihan. Sebaliknya, sayuran yang daunnya berlubang atau batangnya berulat menandakan petani menggunakan hanya sedikit atau tanpa pestisida. Sayuran organik seperti kacang panjang, buncis dan wortel terasa manis dan renyah, kesegarannya juga lebih tahan lama. Dan, nasi yang berasal dari beras organik beraroma wangi, empuk dan lebih awet. Tetapi fakta di lapangan, budidaya pertanian organik dapat menghasilkan produk yang mulus, tak berlubang, tak berulat bila proses perawatan dan monitoringnya dilakukan dengan baik. Selain itu, produk organik yang dipasarkan tidak hanya produk pertanian segar, tetapi juga terdapat produk olahan dan produk segar dari ternak atau perikanan.

Pola hidup masyarakat sekarang sudah banyak yang mulai beralih ke pangan organik untuk mencapai kesehatan optimal, sebagai tindakan preventif. Konsep pangan organik untuk mencapai hidup sehat mulai disadari oleh masyarakat. Hal tersebut menjadikan gaya hidup berubah, dari makan junk food atau makan sayuran yang terpapar pestisida, pewarna, dan pengawet, beralih ke yang organik, dengan tujuan untuk mencegah penyakit atau preventif. Sebab, setiap zat kimia yang ditambahkan memiliki efek negatif. Jika zat-zat yang berbahaya tersebut terus menerus dikonsumsi, akan menjadi beban yang menumpuk di dalam tubuh seseorang, karena zat-zat tersebut bersifat karsinogen.

Bahaya polusi dan hal-hal yang berbau kimiawi membuat sebagian orang mulai menyadari arti penting pola hidup sehat. Salah satunya dengan mengonsumsi makanan organik, yakni bahan makanan bebas kimia. Pertanian dan pangan organik adalah pangan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau artifisial dan atau pestisida sintetis. Namun, menggunakan pupuk organik seperti kotoran dan feses ternak, yang dikenal sebagai pupuk kandang serta kompos yang terbuat dari limbah hasil panen pertanian yang telah mengalami fermentasi.

Keorganikan suatu produk organik ditentukan bukan berdasarkan pada produknya, tetapi bagaimana produk tersebut diproses (organically produced). Konsumen sebaiknya tahu, bagaimana proses untuk menghasilkan produk organik yang ia konsumsi dengan berkunjung ke lahan budidaya pertanian organik, sehingga konsumen menjadi yakin dan percaya, bahwa produk tersebut benar-benar organik. Konsep untuk bergerak dibidang pangan organik, sebaiknya diawali untuk mencapai hidup sehat. Setelah menanam secara organik, kemudian merubah gaya konsumsi, dari makan sayuran yang terpapar pestisida, pupuk kimia, dan bahan tambahan kimia lainnya beralih ke produk organik. Bahan kimia dalam tubuh menjadi radikal bebas atau bersifat karsinogen, yakni penyebab dari penyakit kanker.

Memanfaatkan Lahan Pekarangan untuk Bertanam Secara Organik

Bagi masyarakat yang bermukim di perkotaan, khususnya di komplek perumahan, semakin sulit untuk memiliki lahan pekarangan yang luas, yang disebabkan oleh berbagai faktor. Namun demikian tidak berarti kita tidak dapat mengembangkan hobi atau kreativitas kita dibidang cocok tanam. Selain mengelola halaman yang terbatas dengan berbagai jenis tanaman hias/bunga sebagai upaya untuk menjadikan rumah asri dan indah, kita dapat memanfaatkan lahan pekarangan secara maksimal untuk bercocok tanaman yang dapat menunjang kebutuhan keluarga sehari-hari.

Sayuran merupakan salah satu unsur dari makanan sehat yang sebaiknya dikonsumsi setiap hari karena selain serat yang terkandung didalamnya, juga sayuran banyak mengandung zat gizi yang diperlukan tubuh manusia. Setiap hari, jika dirumah biasa masak dan mengelola makanan keluarga sendiri (tidak langganan catering atau selalu beli matang diwarung), dapat dipastikan setiap ibu pada setiap rumah senantiasa mengeluarkan anggaran untuk membeli sayuran. Padahal jika kita menanam sendiri sayur-sayuran, paling tidak bisa membantu menghemat anggaran belanja harian, sehingga anggaran belanja sayuran dapat dialihkan untuk menutupi kebutuhan lainnya.

Menanam sayuran dipekarangan tidak selalu harus pada lahan yang luas, lahan sempitpun dapat kita maksimalkan. Jika tidak ada halaman yang masih terbuka karena mungkin saja sudah semua diplester, di paving dsb, menanam sayuran dipekarangan rumah tetap dapat dilakukan. Apabila dirumah memiliki tempat jemuran di lantai 2, itupun dapat digunakan sebagai lahan untuk bercocok tanam sayuran. Bertanam sayuran pada prinsipnya mudah, apalagi secara organik. Penanaman dapat dilakukan pada polybag atau wadah-wadah lain yang sudah tidak dipakai. Tanaman organik mudah dilakukan karena pereawatannya juga mudah, tidak perlu memberikan pupuk kimia sejenis urea dan pestisida kimia lainnya.

Penanaman secara organik cukup menggunakan media campuran pupuk kandang, sekam (basah atau bakar), dan tanah dengan perbandingan 1:1:1. Penyiraman cukup dilakukan sekali pada setiap hari. Hanya saja lokasi yang dipakai sebagai tempat menanam harus terkena sinar matahari langsung. Penanaman untuk keperluan sendiri dapat diatur dan dijadwal sedemikian rupa sehingga ragam jenis sayuran dapat ditanam dan dipanen secara bergiliran. Oleh karena itu penanaman harus memiliki jangka waktu tertentu, begitu pula jumlah atau banyaknya yang ditanam untuk setiap jenis pada setiap kali penanaman.

Menanam Sayuran Secara Organik:

  1. Menyiapkan alat dan bahan.

Alat yang diperlukan untuk bercocok tanam sayuran organik cukup sederhana, yakni sekop/cangkul  atau cetok untuk mengaduk media, tongkat untuk melubangi media, dan alat untuk menyiram.

Bahan yang diperlukan adalah bibit sesuai dengan jenis sayuran yang dikehendaki, dan media yang terdiri dari pupuk kandang atau kompos (yang sudah dihaluskan dan kering), tanah, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1.

  1. Menyiapkan polybag, melubangi pada 2 bagian dari bawah untuk drainase, dan melipat 1/3 bagian atas sehingga berupa tabung, kemudian diisi dengan campuran media sampai penuh.
  2. Menyiram media yang sudah dimasukkan pada polybag sampai jenuh, yakni sampai semua media basah dan air mengalir sampai bawah. Setelah disiram maka media akan turun dan menjadi lebih padat. Sebaiknya media tidak langsung ditanami, istirahatkan selama 1 malam.
  3. Menanami jenis sayuran kangkung, bibit berupa biji dapat langsung ditanam dengan cara melubangi media menggunakan tongkat atau kayu pelubang dengan kedalaman kurang lebih 1 ruas jari. 1 Polybag dapat diisi antara 25 – 30 biji, atau disesuaikan dengan ukuran polybag. Setelah semua lubang terisi biji, kemudian ditutup dengan tanah dengan cara meratakannya. Siram kembali dengan air, dan selanjutnya penyiraman cukup dilakukan sekali dalam sehari. Sebaiknya penyiraman dilakukan pada sore hari.
  4. Untuk menanam jenis sayuran seperti sawi, slada kriting, siong max, kailan, harus disemai terlebih dahulu. Lama penyemaian memerlukan waktu sampai dengan 2 minggu, tergantung jenis yang ditanam dan kualitas bibit yang dipergunakan. Setelah semaian berdaun, maka selanjutnya memindahkan bibit kedalam polybag. Satu polybag diisi dengan sekitar 7 (tujuh) batang bibit dengan jarak yang teratur. Penanaman harus agak dalam sampai daun yang pertama keluar (kepel) terbenam.
  5. Menanam bayam, bibit lebih mudah jika dicampur dengan pasir atau tanah yang halus agar penebaran merata. Gemburkan media cecara kasar, kemudian taburkan bibit bayam secara merata dipermukaan media. Kemudian di aduk kasar dengan jari tangan agar bibit tertutup media.
  6. Selanjutnya adalah perawatan tanaman melalui penyiraman dan pembersihan rumput yang tumbuh pada media tanaman, dan juga membersihkan dari gangguian binatang seperti halnya ulat dan walang, sampai masa panen tiba.
  7. Jika Tanaman sudah dipanen, sebaiknya media digemburkan kembali (didangir) dan diistirahatkan semalam untuk kemudian ditanami kembali.

Selamat mencoba mudah-mudahan bermanfaat !!!



Hello world!
Mei 16, 2009, 2:16 am
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!